Apa Itu Konstipasi Pada Bayi?

Apa itu konstipasi pada bayi? konstipasi atau sembelit adalah frekuensi Buang Air Besar (BAB) kurang dari 3 kali dalam 1 minggu dengan tinja yang yang keras, besar, kering. Tolok ukur kebiasaan BAB yang normal pada anak bergantung pada umur dan apa yang dimakan olehnya. Kebiasaan BAB setiap anak berbeda-beda. Kebiasaan setiap bayi yang mendapatkan ASI eksklusif pun dapat berbeda. Beberapa faktor yang mempengaruhi frekuensi BAB dan konsistensi tinja, antara lain: jenis MP-ASI (misal: kadar serat), jenis susu PASI, ASI, dan toilet training yang dilakukan sebelum waktunya.

Frekuensi BAB biasanya akan berkurang seiring dengan pertambahan umur anak dan kematangan saluran pencernaannya. Pada saat bayi berusia 6 bulan, pola BABnya menyerupai anak yang lebih besar dan konsistensinya biasanya lembek. Anak yang mengalami sembelit atau konstipasi akan mengalami kebiasaan BAB yang tidak seperti biasanya, bahkan bisa menimbulkan keluhan nyeri perut akibat perut terasa penuh dan BAB berdarah.

Pada bayi yang menderita sembelit atau konstipasi, wajahnya dapat memerah saat berusaha mengeluarkan tinja yang keras. Oleh karena itu, yang terpenting saat mengatakan anak mengalami sembelit adalah pola BAB tidak seperti biasanya dan konsistensi tinja mengeras sehingga sulit dikeluarkan.

Bayi yang hanya mendapatkan ASI eksklusif memiliki 2 pola BAB yang sangat berbeda. Di satu bayi tersebut dapat BAB berkali-kali per hari, namun di sisi lain dapat juga sekali dalam seminggu. Jika bayi BAB sehari 3 kali dan kemudian hari berubah menjadi 3 hari sekali, hal ini tidak dinamakan sembelit jika tidak ada gangguan pengeluaran tinja. Namun jika anak tersebut harus mengejan akibat tinja yang keras sehingga sulit dikeluarkan, maka inilah yang disebut sembelit atau konstipasi pada anak.

Menurut Mayo Clinic, yang juga menjelaskan pengertian apa itu konstipasi pada bayi mengemukakan sebagian besar sembelit yang terjadi pada anak sifatnya sementara. Namun sembelit yang terjadi berkepanjangan (konstipasi kronis) merupakan masalah yang juga sering terjadi pada anak. Salwan et. al. pada tahun 2010 meneliti pola BAB 303 bayi usia 7-12 bulan yang berkunjung ke Posyandu dan Puskesmas di kota Palembang. Dari penelitiannya di dapatkan bahwa gangguan pola BAB didapatkan sebanyak 5,9%, dengan rincian sebanyak 2,3% menderita konstipasi dan 3,6% menderita diare. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua memperhatikan pola BAB anak atau bayi dan segera memeriksakan anak ke dokter jika di dapatkan gangguan pola BAB.

Itulah tadi penjelasan mengenai apa itu konstipasi pada bayi. Sekian dan semoga bermanfaat… 🙂

Baca Juga :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!